Pada hari rekreasi, kami semua anak kelas 6 berkumpul di sekolah sejak pukul 7 pagi.
Gue datang dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans panjang. Gue juga
membawa sebuah ransel puma yang berisi botol aqua 600 ml, baju olahraga
sekolah, baju dan celana tidur.
Udah, gitu doang yang gue bawa.
Seharusnya kami diwajibkan membawa alat tulis dan buku kosong, tapi ya apa adanya gue ya gitu, lupa beli.
Setelah kira-kira pukul 7.30,
kami diminta berkumpul dengan masing-masing kelompok. Lalu tiap-tiap
kelompok disuruh masuk ke mobil masing-masing. Kelompok gue kedapetan
mobil yang bentuknya mirip angkot berwarna hijau tua mengkilat. Gue dan
temen-temen gue bersemangat banget waktu itu. Saat itu Kevin yang
bertubuh paling gempal membawa sebuah ransel besar dan gembul yang
setelah dibuka ternyata isinya adalah... CHEETOS yang tak terhitung
jumlahnya.
Dua puluh menit
kemudian armada kami berangkat. Mobil-mobil ini berjalan beriringan
dengan santai tetapi cepat. Perjalanan ke Putak memakan waktu 4 jam
lebih sedikit. Selama perjalanan Gilbert yang duduk di kursi paling
depan hanya duduk diam menggunakan headset yang tergantung di
telinganya, Kevin tidak melakukan apapun selain mengunyah cheetosnya.
Sementara gue, Djorghi dan Vincent gila-gilaan sambil bernyanyi
keras-keras di kursi paling belakang. Ya, sepertinya waktu itu mobil
kami lah yang paling ribut di antara semuanya. Kalo waktu itu jarak lo
dengan mobil gue kurang lebih 2 meter, akan terdengar suara
"HAHAHA!!
BRAKK BRUKK", dari arah kursi belakang mobil gue.
Pada 2 jam awal di
perjalanan, suara gue dan temen-temen gue kira-kira volumenya 5000000,
tetapi setelah tiga empat jam di perjalanan volume suara kami turun
drastis menjadi 0,3. Ya, pita suara kami mau pecah rasanya karena
bernyanyi selama 2 jam non-stop.
Setelah 3 jam perjalanan, saat gue, Djorghi dan Vincent sudah mulai
diam, keadaan di mobil benar-benar sepi. Tak ada yang terdengar selain
suara 'krauk krauk' yang berasal dari mulut kevin yang sibuk mengunyah
cheetos. Karena sudah gak tahan, gue pun memecah keheningan dengan
mencoba membuat sebuah lelucon.
"Eh, eh" kata gue memecah keheningan.
"Aapphaaa" jawab Kevin sambil mengunyah cheetosnya.
"Gue punya pertanyaan nih, makhluk apa yang kalo muntah, muntahnya bau ingus?? Hayo apa??", tanya gue.
Hening. Tak ada yang menjawab.
"Yaitu hidungnya Gilbert!!!! Hahahaha... Hahahaha.. Hahaha.. Haha.. Haha.. Ha..."
Hening.
Emang garing banget ya?
Setelah itu terjadi keheningan yang lama di mobil.
Sampai akhirnya Vincent memecah keheningan,
"Kev, bagi cheetos dong. Laper nih", pinta vincent
"O-oke vin, sa..bar bentar"
Setelah menuggu sekitar setengah menit, vincent menagih lagi,
"Loh kev, mana cheetosnya??"
"Eh..anu vin, anu.. Cheetosnya dimakan kucing, eeh maksud gue cheetosnya abis vin.."
"HAH??!! GILE LU YA KEV, BELUM JUGA NYAMPE 4 JAM UDAH HABISIN CHEETOS 10 BUNGKUS, RAKUS AMAT", jawab vincent, terkejut.
"Mati lu kev, gue kasi tau nyokap lo biar lo gabisa makan cheetos lagi,
mampus lo!", ancam Djorghi dengan nada yang menakut-nakuti.
"AH! JANGAN DJOR! JANGAN!! NANTI GUE DIUSIR DARI RUMAH!! JANGAN!!"
Teriak kevin sangat lantang. Ternyata dia gak dibolehin sama nyokapnya
makan cheetos karena dia punya semacam sindrom yang bikin dia itu merasa
gak nyaman kalo sehari ga ada ngunyah cheetos.
"Eh, kenapa jadi diusir dari rumah?" Tanya gue dengan wajah ala orang bego.
"Ya nanti nyokap gue bisa marah lah."
"Ya emang kalo nyokap lo marah lo diusir dari rumah? Sadis amat nyokap lu kev." Tanya djorghi.
"Ya nggak gitu juga kali. Nyokap gue kan sayang banget sama gue..." Gue sama Djorghi mau muntah.
Sekitar pukul 12 siang,
rombongan gue nyampe di Putak. Udara di sini sejuk banget karena banyak
pohon, beda sama udara kota yang bau asap kendaraan plus bau selokan.
Kami nginep di sebuah asrama katholik (karena sekolah gue waktu itu
sekolah katholik). Setelah turun dari mobil, kami semua diminta untuk
pergi ke aula asrama untuk mendengar salam selamat datang dari panitia
rekreasi dan untuk makan siang. Ya, waktu itu perut kami memang sudah
waktunya diisi.
Lalu
setelah kurang lebih 1 jam berbincang-bincang dan makan siang, kami
semua diminta pergi ke kamar masing-masing yang sudah dibagi sebelumnya.
Gue, Djorghi dan temen-temen kedapetan sebuah area kamar yang bernama
"Sinai". Pertama kali gue denger kalo gue kebagian kamar di sinai, gue
seneng banget karena gue dengernya "Sydney" bukan "Sinai". Percaya deh,
kalo lo denger guru gue ngomong sinai waktu itu lo juga pasti ngira kalo
itu Sydney.
Setelah semua
harapan gue yang membayangkan kamar "Sydney" yang mewah dan ber ac,
ternyata area Sinai hanyalah sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu
dengan 2 kamar dan tidak ber ac.
Memang sial ya nasib gue.
Setelah gue dan temen-temen gue menaruh barang-barang di kamar, gue
pergi untuk ngecek ke kamar sinai yang kedua (waktu itu gue, Djorghi,
Kevin dan Vincent tidur jadi satu di kamar sinai 1). Setelah gue ngetuk
pintu kamar sebelah, ternyata temen gue yang bernama Bevan yang bukain
pintu.
"Weh bev, ternyata lu disini."
"Iyalah. Lo di kamar sebelah?" Tanya bevan.
"Iya. Yaudah gue keliling-keliling dulu ya, siapa tau ada yang menarik, hehehe."
"Yaudah sono gih. Gue nemenin pak Bono aja sambil nonton tv."
"Kamar lu ada tv? Eh, bentar-bentar, Pak Bono???"
"Iya. Pak Bono tidur di kamar gue."
"Apa?! Pak Bono si guru killer tidur di sebelah kamar gue??!!!"
"Weh stt!! Diem weh, Pak Bono lagi tidur bego." Bisik Bevan.
"Ups, sori keceplosan. Tapi gue jadi ga bakal bisa gila-gilaan kalo Pak Bono tidur di kamar sini kampret."
"Yauda urusan lo" jawab bevan tak peduli.
"Eh bytheway, kamar lo seriusan ada tv nya?"
"Ada"
Gue mau meledak.
Udah
kamar ga ada hiburan sama sekali, panas pula, dan yang paling parah..
Di sebelah kamar gue ada guru KILLER yang siap memangsa gue kalo gue
macam-macam. Ya, Pak Bono adalah salah satu guru di sekolah gue yang
ngajar IPA. Percaya deh, lo gak bakal mau diajar sama Pak Bono. Dengan
kacamata bulat, kepala botak, celana terlalu naik, Pak Bono lebih
kelihatan kayak psikopat daripada guru.
Setelah itu gue pergi meninggalkan kamar Bevan dan jalan-jalan
keliling asrama. Saat gue lagi berjalan, gue lihat dari kejauhan ada
bangunan yang rame banget sama temen-temen gue. Gue pun mendatangi
bangunan itu karena penasaran. Pas nyampe, gue nanya salah satu temen
gue, Reiner.
"Rei, ini kenapa nih rame-rame gini?" Tanya gue
"Loh lu gatau zra? Ini aula ber-ac."
"Aula ber-ac??" Tanya gue, gak ngerti.
"Iya, aula ber-ac, satu-satunya area kamar di asrama ini yang ber-ac."
"Apa?! Seriusan lo?! Mana gue mau liat"
Lalu Reiner mengajak gue masuk. Ternyata disini tidurnya rame-rame di sebuah ruangan besar.
"Ah.. Dinginnya.. Oh yeah.." Gue berbicara sendiri.
"Kenapa lu zra? Kaya gapernah ngerasain ac aja."
"Di kamar gue panas banget, pengap, gaada hiburannya. Disini enak banget.. Ah.." Gue keenakan.
"Rei, tukeran tempat tidur yok, pleasee" pinta gue.
"Pain enak disini"
"Please rei, gue butuh ini, please!!!!!"
Tanpa sadar gue mendorong Reiner dengan keras sampai ia terjatuh.
Sukses. Gue digampar.
(Dalem hati: GUE GAK SENGAJA KAMPRET)
Sekitar pukul 7 malam,
semua anak kelas 6 disuruh berkumpul kembali di aula asrama untuk makan
malam dan bermain game. Setelah makan dan bermain cukup lama, pada pukul 10 malam kami pun disuruh kembali ke kamar masing-masing dan bersiap untuk tidur.
Allright, this is the FIRST NIGHT beybeh!!
Setelah gue gosok gigi dan cuci muka, gue berganti baju tidur. Tapi
gue tidak langsung tidur. Gue dan Djorghi menunggu Kevin, Vincent dan
Gilbert terlelap agar kami dapat menjalankan misi kami. Setelah semuanya
tertidur, gue menyuruh Djorghi mengeluarkan topeng hantu dan kapak
mainan yang udah gue suruh dia untuk bawa saat di Balikpapan.
Bukannya mengeluarkan topeng hantu, Djorghi malah mengeluarkan sebuah topeng anonymus dan sebuah topeng badut.
"Weh gimana kita mau nakut-nakutin orang pake topeng beginian bego?!" Tegur gue.
"Habis yang ada di rumah gue cm ini zra."
"Hadeh. Tau gitu mending gue yang bawa, kan bisa beli. Yaudah ayo pake
topeng beginian gapapa. Muka badut kan ngeri, kalo muka anonymus kan
lumayan ngeri senyumnya."
"Tapi serius zra? Menurut gue senyumnya anonymus itu unyu banget loh."
"DIAM DJOR, LO YANG BERTANGGUNG JAWAB KALO TERNYATA SENYUMNYA ANONYMUS ITU UNYU."
Setelah
itu gue membuka pintu kamar. Gue celingak celinguk ngecek ada orang ato
nggak. Lalu gue dengan topeng badut dan Djorghi dengan topeng
anonymusnya yang "unyu" berjalan mengendap-endap di koridor asrama
menuju area paviliun, area kamar para cewek.
Kriett kriett krett kritt
"Eh Djor, bisa nggak kaki lo diem 5 detik aja" bisik gue.
"Sori zra. Lantainya kayu."
Gue melirik sebentar ke arah kaki Djorghi.
"Ya gimana lo nggak berisik, lo jalannya jinjit begoo"
"Oh gitu ya zra. Gue baru tau."
Gue pun nyampe di depan kamar-kamar para cewek.
Gue ngetuk pintu kamar pertama.
Tok tok tok
"Siapphaa??" Jawab seseorang dari dalam dengan suara mengantuk.
Gue tidak bersuara.
Seorang
cewek membuka pintu, cewek itu ternyata Clarita, temen sekelas gue.
Saat Clarita membuka pintu, gue dan Djorghi udah siap di depan pintu
kamarnya dengan topeng kami dan kapak mainan yang dipanggul di bahu.
Bayangin aja, orang pake topeng badut dan anonymus memanggul sebuah
kapak plastik.
Karena masi ngantuk, Clarita benar-benar kaget melihat 2 orang pria bertopeng dan memanggul kapak.
"Ahhhh!!!! Siapa lo??!!!!" Teriak Clarita sekeras-kerasnya sambil membanting pintu.
Gue
dan Djorghi langsung pergi ke arah belakang toilet paviliun dan
bersembunyi di sana. Gue dan Djorghi menguping beberapa teman Clarita
sedang menenangkan clarita yang masih syok karena aksi kami.
Beberapa menit kemudian, keadaan kembali tenang. Sepertinya para
cewek udah terlelap lagi. Itu berarti sinyal bagi gue dan Djorghi untuk
beraksi kembali. Kali ini kami berencana menakuti cewek-cewek yang
berada di kamar seberang kamar Clarita. Kami mengetuk pintu dengan agak
keras kali ini.
Brakk brakk brakk
"Bhukkaa phinttuunya arrr.." Tiba-tiba Djorghi menirukan suara beruang yang baru belajar bicara.
"Eh ngapain lu Djor?" bisik gue
"Biar ada aura kegelapannya zra!"
"Eh ini tengah malem, udah gelap Djor"
"Gitu ya." Ujar Djorghi pelan.
Tiba-tiba
pintu dibuka. Temen cewek gue, Nia yang buka pintu. Gue dan Djorghi
yang belom siap di posisi menakuti kami, kalang kabut.
Agar Nia ketakutan, kami pun memakai rencana B.
"Khaamoo Aakann mathiii.." Djorghi meniru suara beruang lagi.
"Eh, iya-iya itu benar, kamu akan mati! Grr.." Gue ikutan pake suara beruang tapi gagal.
"Grrr.." Tambah Djorghi.
"Graarrr..." Gue ikut nambahin.
"Groaaaarrrrr....!!!" Tambah Djorghi lagi, lebih keras.
"GROAAARRRRR!!!!!!" Gue TERLALU KERAS.
"WOI PRET, SIAPA SIH RIBUT AMAT GUE LAGI TIDUR!!!" Suara besar yang
mengerikan terdengar dari dalam kamar Nia. Gawat, itu adalah suara
Sasha, cewek tomboi di sekolah gue. Percaya deh, lo pasti gabakal mau
berada di deket Sasha kurang dari 3 meter. Anaknya tomboi banget, untuk
nyapa seorang anak cowo, dia bakal nonjok muka cowo tersebut tepat di
hidung. Hampir semua cowo di sekolah gue pernah merasakannya, termasuk
GUE.
Mendengar suara Sasha, gue dan Djorghi lari terbirit-birit keluar
dari area paviliun meninggalkan Nia yang masih berdiri ngantuk di depan
pintu kamarnya.
Gue lari dan lari sampai akhirnya menemui sebuah toilet. Gue dan Djorghi bersembunyi di dalam.
Djorghi terpipis sedikit di celana.
Beberapa
detik kemudian, gue mendengar hentakan kaki. Ada yang datang. Dari
dalam kamar mandi, gue mendengar ada suara beberapa cewe sedang
berdiskusi.
"Seriusan lo,nia? Mereka pake topeng badut sama anonymus?" Suara tomboi Sasha terdengar dengan jelas dari dalam toilet.
"Iya serius sha, mereka kayak nyoba nakutin gue gitu tapi berantakan." Terdengar suara Nia.
"Wah, pasti mereka salah seorang temen kita yang cowo. Minta digampar mereka!!" Jawab Sasha.
"Djor, gawat djor, habis kita" bisik gue.
"Iya zra, kayak mana nih aduh gue tambah keringat dingin ni.." Balas Djorghi.
Setelah
keadaan sepertinya mulai aman dan tenang, gue dan Djorghi keluar dari
toilet. Sambil celingak-celingkuk kami berjalan kembali menuju sinai
karena menurut kami malam itu sudah cukup mengerikan.
Di tengah perjalanan ke sinai, gue dan Djorghi melewati sebuah
koridor yang berisi kamar mandi laki-laki tempat kami mandi. Saat gue
melewati salah satu kamar mandi, gue melihat lampu di kamar mandi
tersebut menyala.
"Byurr... byurr" muncul suara orang nyiram kloset dari dalam kamar mandi.
"Djor, lari jor!!" Bisik gue agak keras pada Djorghi.
Kami
baru lari sejauh 2 meter dan pintu kamar mandi terbuka. Sepasang kaki
berjalan keluar. Gue mencoba mengenali wajahnya. Beberapa detik gue
melihat dan gue pun sadar kalo orang itu adalah Pak BONO yang tidak
memakai kacamata. Gue dan Djorghi bertatap muka dengan Pak Bono cukup
lama, hingga akhirnya Djorghi berlari meninggalkan gue.
"KAMPRET DJOR, TUNGGUIN WOI!!" Teriak gue sambil ikut berlari.
Pak Bono yang sudah sadar pun ikut berteriak.
"Hei siapa kalian!!!" Teriak Pak Bono sambil ikut berlari.
Gue
berlari mengikuti Djorghi menuju taman yang penuh pepohonan. Pak Bono
pun juga mengikuti kami ke taman. Gue dengan Djorghi dengan lincahnya
dapat melewati pepohonan yang cukup lebat itu. Sementara itu, Pak Bono
yang tidak memakai kacamatanya kesulitan melewati ranting-ranting di
tanah dan menghindari pohon-pohon besar, hingga akhirnya,
BRUAKK!!
Pak Bono menabrak sebuah pohon beringin besar.
Gue membalikkan kepala untuk melihat suara apa itu.
BRAKK!!
Gue ikutan nabrak pohon beringin.
Beberapa menit kemudian gue sadar dan Djorghi udah ada di depan muka gue.
"Nah, akhirnya sadar juga, ayo kabur!"
Gue dan Djorghi lari meninggalkan pak Bono yang masih tergeletak di tanah karena nabrak.
Sesampainya di sinai, gue dan Djorghi ngos-ngosan. Topeng badut yang
gue pake retak gara-gara gue nabrak pohon. Gue pun langsung berbaring di
kasur dan tertidur.
Gue berharap malam selanjutnya lebih baik dari malam ini.
(Pesan untuk malam ini: JANGAN PERNAH BERLARI SAMBIL MENOLEH KE BELAKANG KARENA ITU AKAN MENJERUMUSKANMU.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar